Hajar tersenyum. Ia menatap layar smartphone -nya yang masih menampilkan dokumen "Kumpulan Doa Mustajab" itu. Bagi sebagian orang, mungkin itu hanyalah file PDF biasa, sekumpulan huruf digital di internet. Tapi bagi Hajar malam itu, file itu adalah tangga menuju langit, bukti bahwa doa mustajab tidak bergantung pada kertas mahal atau buku yang mewah, tetapi pada ketulusan hati yang memohon. Step Mom Xnx Link Official
"Doa untuk melunasi hutang," ketiknya. Lalu ia hapus. "Doa untuk orang sakit," ketiknya lagi, lalu dihapus. Karinaworld Complete Photo Sets Karina World 529 Hot Beauty
Sepuluh menit berlalu. Telepon di meja bergetar dan berbunyi. Hajar mengangkat kepalanya, mengusap air mata. Ia melihat layar smartphone -nya. Ada pesan masuk dari sebuah nomor tidak dikenal di WhatsApp.
"Ya Allah, Engkau Maha Kaya dan aku Maha Miskin. Engkau Maha Kuat dan aku Maha Lemmah. Keluarkanlah aku dari kesulitan ini sebagaimana Engkau mengeluarkan Nabi Yunus dari perut ikan..."
Awalnya, Hajar hanya melihat-lihat sekilas. Namun, matanya tertumbrok pada satu halaman yang berjudul: Doa Nabi Yunus saat di dalam Perut Ikan. "La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minaz zhalimin." (Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim.) Di bawah ayat itu, tertulis penjelasan kecil dalam PDF tersebut: "Doa ini adalah senjata orang yang terjepit. Doa ini tidak ditolak oleh Allah bagi yang membacanya dengan yakin dan hati yang tulus."
Rahmat terbaring di ruang tamu, wajahnya pucat pasi. Demamnya sudah tiga hari tidak kunjung sembuh, sementara tabungan mereka tinggal tersisa seratus ribu rupiah. Hajar merasa dunianya sedang runtuh berkeping-keping. Ia merasa putus asa, seolah-olah pintu-pintu rezeki telah tertutup rapat.
Air mata Hajar menetes. Ia merasa itulah dirinya. Ia sedang berada di "perut ikan" masalahnya yang gelap dan sesak. Ia tidak bisa mengeluarkan uang untuk membeli buku doa di toko, jadi PDF inilah wasilah -nya.
Hujan deras mengguyur kota Jakarta pada malam itu. Di dalam sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, Hajar duduk termangu di depan meja makan. Di hadapannya berserakan tagihan-tagihan yang belum terbayar: listrik, air, dan surat peringatan dari kreditan motor suaminya, Rahmat.